Jumat, 30 Agustus 2013

     Desa Lingga
Di desa ini terdapat bangunan Rumah Tradisional Karo yang berusia 250 tahun yang di kenal dengan “ Rumah Siwaluh Jabu ”  yang masing – masing rumah terdiri dari 8 rumah tangga yang hidup dalam keadaan yang damai dan tentram. Bahan bangunan rumah ini terbuat dari kayu bulat, papan, bambu dan beratap ijuk tanpa menggunakan paku. Dan di kerjakan oleh tenaga arsitektur masa lalu. Di desa ini banyak terdapat Rumah Adat Karo.
Untuk menuju ke desa Lingga, kita harus menaiki angkot Sigantang Sira dan KT yang stasiunnya ada di tugu bambu runcing Kabanjahe. Dari sana kita melewati desa Rumah Kabanjahe. Dengan ongkos Rp.3000 kita sudah bisa sampai ke desa Lingga. Jarak dari Kota Kabanjahe ke Desa Lingga berkisar 3 Km. Jalan menuju desa ini lumayan bagus dan sudah di aspal, namun di beberapa bagian ada lubang- lubang kecil.
Saya langsung menuju ke rumah Kepala Desa, mengungkapkan maksud dan tujuan datang ke desa tersebut. Beliau menyambut saya dengan gembira dan mendukung kedatangan saya. Setelah saya mendapat ijin dari Kepala Desa, saya langsung terjun ke lapangan untuk mengambil gambar Rumah Adat Karo di Desa tersebut.
Desa ini telah di buat Museum Rumah Adat Karo ( Gambar 24 ) beserta dengan peralatan - peralatan yang ada pada jaman dahulu. Di desa ini hanya tertinggal sepuluh rumah adat saja. Dari ke sepuluh Rumah Adat itu, tidak semuanya Rumah Adat yang masih utuh dan bisa di tempati oleh masyarakat tersebut. Menurut pengamatan saya, ada beberapa Rumah Adat yang hampir rubuh, kondisi yang rusak, dan bahkan sudah rubuh sama sekali.
Saat mengambil gambar Rumah Adat Karo, saya di tegor oleh salah satu warga Lingga. Dan kebetulan beliau adalah Pengetua Adat di desa ini. Nama beliau adalah Tersek Ginting ( 49 tahun ). Beliau mengatakan bahwa rumah adat yang utuh di desa ini hanya ada dua. Yang lainnya sudah hampir rubuh, bahkan sama sekali sudah rubuh. Tersek Ginting juga menuturkan bahwa untuk perbaikan Rumah Adat sampai saat ini belum ada dari Pemerintah Tanah Karo.
Hal demikian dapat mengakibatkan kepunahan Rumah Adat di Desa Lingga. Partisipasi pemerintah terhadap keadaan Rumah Adat ini sangatlah kurang, hanya janji – janji yang di berikan oleh pemerintah kepada masyarakat.  Padahal rumah ini sudah di daftarkan kepada PEMKAB Karo. Ini mengakibatkan hanya ada 2 Rumah Adat yang tersisa dan masih utuh. Jika sampai saat ini pemerintah tidak juga tidak di perhatikan maka kemungkinan 10 tahun lagi Rumah Adat yang ada di Desa Lingga akan musnah.


 Rumah Gerga, rumah ini adalah salah satu Rumah Adat yang masih di tempati oleh keluarga Ginting. Menurut Tersek Ginting, Rumah   ini masih utuh, namun sebagian telah mengalami pembugaran. Seperti, dibagian dalam rumah ini sudah di buat kamar - kamar. Yang masing - masing kamar mempunyai fungsi yang berbeda – beda. Sayang sekali, saat saya ke lokasi, yang menempati rumah ini tidak ada di tempat. Akibatnya saya tidak mendapat mengambil gambar di bagian dalam rumah ini.

Rumah Belang Ayo, rumah ini juga terlihat masih utuh, tetapi tidak ada warga setempat yang tinggal di dalamnya. Di karenakan kondisi rumah tersebut kurang memadai dan kurang mendukung. Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar saja karena papannya sudah mulai buruk.





Rumah Bapak Rio Ginting ini adalah salah satu dari bagian Rumah Adat Karo. Tetapi rumah tersebut sudah mengalami pembugaran menjadi rumah biasa. Ini dapat di buktikan dari atapnya yang bertingkat, dan terbuat dari ijuk.   


Menurut Tersek Ginting, Rumah Adat  ini adalah  Rumah Adat model baru. Kerena dinding rumah ini tidak berbentuk berdiri dan miring ( dapat di lihat pada rumah adat yang sebelumnya ), tiang rumah dan juga turenya tidak layak di sebut sebagai tiang dan ture Rumah Adat pada jaman dahulu. Tetapi di bagian dalam rumah ini masih terdapat tempat memasak dan juga para ( tempat menyimpan makanan ) pada jaman dahulu. Rumah Bapak Genta Ginting ini juga adalah jenis Rumah Adat yang telah mengalami pembugaran. Keadaan rumah tersebut juga sama dengan Rumah Adat Karo  sebelumnya ( Gambar 15 ). Dinding rumah tidak miring, tiang rumah terbuat dari semin yang di cetak /  di tempah. Tetapi atapnya masih terbuat dari ijuk.

Gambar ini dulunya adalah Lumbung Page ( tempat penyimpanan padi yang sudah di panen dari ladang / sawah ). Sekarang Lumbung Page ini telah di rombak dan di  jadikan sebagai Taman Baca Anak di desa Lingga.      




Ada juga terdapat satu Rumah Adat lagi. Namun kondisi Rumah Adat Karo ini hampir roboh, ini di karenakan oleh kondisi atap yang sudah rusak ( tidak di perbaiki ) mengakibatkan kondisi rumah tersebut menjadi rusak dan hampir rubuh, bahkan rumah ini tidak dapat terselamatkan lagi. Dari jauh saya melihat ada salah satu Rumah Adat. 

Namun kondisi Rumah Adat ini rubuh dan menimpa rumah warga. Rumah ini rubuh juga akibat tidak di peliharanya lagi dan juga akibat tidak pedulinya terhadap kedaan rumah ini. Tidak jauh dari lokasi Rumah Adat yang rubuh ini ada juga Rumah Adat Rumah Adat Karo.  Keadaannya sangat mempihatinkan.
Rumah Gerga di desa Lingga.
 
Sumber :( eranatalia br sitepu ) Dokumentasi peneliti, 6 Juli 2011
Rumah Belang Ayo di Desa Lingga.



Sumber : ( eranatalia br sitepu ) Dokumentasi peneliti, 6 Juli 2011
Dari hasil analisis saya, bahwa Rumah Adat yang ada di desa Lingga ini tidak dirawat akibat tidak adanya dana dari pemerintah. Masyarakat juga menuturkan bahwa mereka tidak sanggup mengganti kerusakan – kerusakan Rumah Adat di desa ini karena mereka tidak mempunyai cukup biaya. Harapan mereka terhadap Rumah Adat ini adalah agar Pemerintah lebih peduli akan pelestarian akan Rumah Adat di Desa Lingga. Karena jika Rumah Adat ini tidak dilestarikan maka keturunan kita tidak sempat lagi melihat dan mengetahui bagaimana dulunya nenek moyang mereka membangun rumah tanpa menggunakan paku.
**Bujur Rasa Mejuah - Juah Kita Kerina Kalak Karo**

From : Sri Utari Bangun

Sifat dan Tabiat Orang Karo


Berikut adalah rangkuman dari sebuah artikel berjudul “Sifat dan Tabiat Orang Karo” yang ditulis oleh Drs. Tridah Bangun. Kebetulan artikel tersebut diterbitkan dalam kumpulan artikel-artikel tentang masyarakat Karo dengan judul yang sama (Bangun, Tridah. Sifat dan Tabiat Orang Karo. Yayasan Lau Simalem, Jakarta, 2006).
Tulisan beliau tersebut juga merupakan hasil wawancara terhadap 3 orang pakar adat istiadat Karo yakni (alm.) Nulbasi Bangun, (alm.) Sental Sinuraya, dan (alm.) Gancih Tarigan dan hasil-hasil penggalian tulisan-tulisan dengan tema serupa yang sudah ditulis sejak lama. Ada paling tidak ditulis pada artikel tersebut 15 sifat-sifat yang umum dimiliki oleh manusia Karo.
Sifat-sifat yang dituliskan dalam artikel tersebut yang sudah diringkas antara lain :

  • Jujur Orang Karo umumnya tinggal di kampung. Mereka hidup dengan kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi di lingkungan tradisional tersebut. Oleh karena itu segala hal seperti memberi dan menerima dilakukan secara wajar tanpa ada kecurangan. Biasanya jika diketahui ada yang berbuat curang maka akan mendapat hukuman yang berat dari masyarakat.
  • Tegas Manusia Karo memiliki sifat tegas, cepat berpikir, dan cepat bertindak. Mereka tidak begitu lembut menghadapi suatu masalah, apalagi masalah yang dianggap prinsipil, meski sebenarnya dapat memberi risiko bagi diri sendiri ataupun keluarganya.
  • Berani Sejak kecil seorang Karo diajar oleh orang tuanya atau neneknya bahwa setiap manusia sederajat, tidak ada yang lebih istimewa tidak ada yang lebih hina. Yang berbeda hanyalah suratan tangan dan takdirnya. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan seorang Karo tidak pernah ragu untuk berbuat atau pergi ke mana pun. Mereka berani karena benar dan mengaku salah jika memang melakukannya.
    Keberanian ini juga ditunjukkan ketika berkecamuk perang antara kerajaan Deli dan kerajaan Aceh pada abad XVII dan juga perjuangan melawan penjajahan Belanda.
  • Percaya Diri Umumnya orang Karo percaya pada kekuatannya sendiri. Mereka jarang menggantungkan nasib pada orang lain.
  • Pemalu Sifat pemalu dimiliki dengan kuat oleh orang Karo, terutama rasa malu kalau menggantungkan diri pada orang lain dan juga kalau harga diri dan nama baik keluarga sudah tercoreng.
  • Tidak Serakah Secara umum orang Karo tidak serakah atau tamak. Mereka memang mendambakan hidup sejahtera namun bukan melalu cara serakah. Mereka gigih mempertahankan sesuatu kalau memang itu adalah haknya.
  • Mudah Tersinggung dan Pendendam Kebanyakan orang Karo cepat tersinggung jika dirinya atau keluarganya dikata-katai secara negatif oleh orang lain, baik secara terbuka maupun terselubung. Kalau sudah tersinggung orang tersebut segera menjumpai orang yang menghinanya dan menyelesaikan dengan segera. Kalau tidak maka akan berlarut menjadi dendam. Biasanya dendam itu ingin dilunasi dengan cara yang kurang pertimbangan rasional.
    Untuk menghindari penyelesaian secara irasional, biasanya ada pihak ketiga yang berusaha mendamaikan secara adat.
  • Berpendirian Teguh Orang Karo umumnya berpendirian teguh. Sekali memiliki suatu pendirian, sukar baginya untuk merubah pendiriannya tersebut, kecuali kalau dalam situasi terpaksa. Tapi biasanya ini terjadi saat-saat tertenu, misalnya bersandiwara atau pada orang lain.
  • Sopan Pembawaan sopan bergaul ditengah orang ramai dan dalam keluarga, merupakan bagian dari sikap hidup orang Karo. Sikap ini mungkin dilandasi pemikiran bahwa dalam bermasyarakat harus saling menghargai yakni berbuat sopan dan menghormati pihak lain, bukan dengan pura-pura. Gaya orang Karo berbicara menunjukkan sikap sopan dengan tutur kata yang halus dan tidak keras.
  • Selalu Menjaga Nama Baik Keluarga dan Harga Diri Sejak kecil orang Karo diajari harus pandai-pandai menjaga diri dan nama baik keluarga. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari orang Karo sangat menghargai martabat keluarganya. Maka seseorang selalu terpanggil jiwanya untuk membela kehormatan keluarganya jka hal itu dianggapnya pantas. Pencemaran nama baik keluarga dianggap merupakan tamparan bagi seluruh anggota keluarga turun temurun dan pasti menimbulkan dendam kesumat, yang kadang-kadang nyawa sering jadi taruhannya.

    Menyangkut harga diri dan keluarga, sejak belasan tahun terakhir ini pada sebagian masyarakat Karo, telah berkembang upaya untuk tidak mau kalah dari orang lain dan menunjukkan bahwa dia juga berkemampuan seperti apa yang telah ditunjukkan.
  • Rasional dan Kritis Berpikir kritis dan rasional juga merupakan sifat khas orang Karo. Dalam menghadapi persoalan, orang Karo tidak begitu cepat emosional, tapi selalu dipikirkan dulu secara rasional dan kritis. Oleh karena itu mereka tidak begitu mudah terbuai oleh suatu rayuan. Sikap kritis ini sering membuat pihak lain kecewa karena dianggap bandel sehingga tidak mudah membawanya ke satu tujuan yang dimaksudkan. Contohnya adalah dalam penyebaran agama di dalam masyarakat Karo.
  • Mudah Menyesuaikan Diri Karena sopan bergaul, selalu menghormati sesama anggota masyarakat, orang Karo secara mudah mampu menyesuaikan diri di tengah masyarakat baru, tempat mereka berdomisili.
  • Gigih Mencari Pengetahuan Karena sadar dalam hidp selalu kekurangan ilmu sebagai pegangan hidup, orang Karo sejak dulu sangat gandrung mencari ilmu pengetahuan. Maka ditiap kesempatan yang memungkinkan, orang Karo mencari ilmu pengetahuan dengan segala kegigihan. Untuk mendapat ilmu pengetahuan, mereka rela menempuh dengan segala penderitaan. Rintangan mereka atasi dengan segala ketabahan.
  • Mudah Iri dan Dengki Iri dan dengki dalam bahasa Karo adalah cian. Teman sejoli dari iri adalah cemburu. Keduanya ini secara nyata selalu mengarah pada yang tidak baik. Sifat-sifat dengki/cemburu masih bersemayam pada masyarakat Karo.
    Penyakit lain yang mirip yang masih ada dalam masyarakat Karo adalah kesukaan sebagian besar kaum ibu-ibu mengata-ngatai orang lain secara negatif. Sifat ini dalam bahasa Karo adalah “Cekurak“.
  • Mementingkan Prosedur Orang Karo sejak zaman dulu ternyata mematuhi apa-apa yang telah menjadi kesepakatan bersama mengenai berbagai persoalan. Seseorang jarang sekali melanggar kesepakatan itu, sebab besar resikonya. Karena itu jika ada anggota masyarakat yang berbuat melangkahi aturan umum, biasanya terjadi keributan.