Keadaan Rumah Adat Karo ( Desa Lingga )
Desa Lingga
Di
desa ini terdapat bangunan Rumah Tradisional Karo yang berusia 250
tahun yang di kenal dengan “ Rumah Siwaluh Jabu ” yang masing – masing
rumah terdiri dari 8 rumah tangga yang hidup dalam keadaan yang damai
dan tentram. Bahan bangunan rumah ini terbuat dari kayu bulat, papan,
bambu dan beratap ijuk tanpa menggunakan paku. Dan di kerjakan oleh
tenaga arsitektur masa lalu. Di desa ini banyak terdapat Rumah Adat
Karo.
Untuk
menuju ke desa Lingga, kita harus menaiki angkot Sigantang Sira dan KT
yang stasiunnya ada di tugu bambu runcing Kabanjahe. Dari sana kita
melewati desa Rumah Kabanjahe. Dengan ongkos Rp.3000 kita sudah bisa
sampai ke desa Lingga. Jarak dari Kota Kabanjahe ke Desa Lingga berkisar
3 Km. Jalan menuju desa ini lumayan bagus dan sudah di aspal, namun di
beberapa bagian ada lubang- lubang kecil.
Saya
langsung menuju ke rumah Kepala Desa, mengungkapkan maksud dan tujuan
datang ke desa tersebut. Beliau menyambut saya dengan gembira dan
mendukung kedatangan saya. Setelah saya mendapat ijin dari Kepala Desa,
saya langsung terjun ke lapangan untuk mengambil gambar Rumah Adat Karo
di Desa tersebut.
Saat
mengambil gambar Rumah Adat Karo, saya di tegor oleh salah satu warga
Lingga. Dan kebetulan beliau adalah Pengetua Adat di desa ini. Nama
beliau adalah Tersek Ginting ( 49 tahun ). Beliau mengatakan bahwa rumah
adat yang utuh di desa ini hanya ada dua. Yang lainnya sudah hampir
rubuh, bahkan sama sekali sudah rubuh. Tersek Ginting juga menuturkan
bahwa untuk perbaikan Rumah Adat sampai saat ini belum ada dari
Pemerintah Tanah Karo.
Hal
demikian dapat mengakibatkan kepunahan Rumah Adat di Desa Lingga.
Partisipasi pemerintah terhadap keadaan Rumah Adat ini sangatlah kurang,
hanya janji – janji yang di berikan oleh pemerintah kepada masyarakat.
Padahal rumah ini sudah di daftarkan kepada PEMKAB Karo. Ini
mengakibatkan hanya ada 2 Rumah Adat yang tersisa dan masih utuh. Jika
sampai saat ini pemerintah tidak juga tidak di perhatikan maka
kemungkinan 10 tahun lagi Rumah Adat yang ada di Desa Lingga akan
musnah.
Rumah Gerga, rumah ini adalah salah satu Rumah Adat yang masih di tempati oleh keluarga Ginting. Menurut Tersek Ginting, Rumah ini masih utuh, namun sebagian telah mengalami pembugaran. Seperti, dibagian dalam rumah ini sudah di buat kamar - kamar. Yang masing - masing kamar mempunyai fungsi yang berbeda – beda. Sayang sekali, saat saya ke lokasi, yang menempati rumah ini tidak ada di tempat. Akibatnya saya tidak mendapat mengambil gambar di bagian dalam rumah ini.
Rumah Belang Ayo, rumah ini juga terlihat masih utuh, tetapi tidak ada warga setempat yang tinggal di dalamnya. Di karenakan kondisi rumah tersebut kurang memadai dan kurang mendukung. Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar saja karena papannya sudah mulai buruk.
Menurut Tersek Ginting, Rumah Adat ini adalah Rumah Adat model baru. Kerena dinding rumah ini tidak berbentuk berdiri dan miring ( dapat di lihat pada rumah adat yang sebelumnya ), tiang rumah dan juga turenya tidak layak di sebut sebagai tiang dan ture Rumah Adat pada jaman dahulu. Tetapi di bagian dalam rumah ini masih terdapat tempat memasak dan juga para ( tempat menyimpan makanan ) pada jaman dahulu. Rumah Bapak Genta Ginting ini juga adalah jenis Rumah Adat yang telah mengalami pembugaran. Keadaan rumah tersebut juga sama dengan Rumah Adat Karo sebelumnya ( Gambar 15 ). Dinding rumah tidak miring, tiang rumah terbuat dari semin yang di cetak / di tempah. Tetapi atapnya masih terbuat dari ijuk.

Gambar ini dulunya adalah Lumbung Page ( tempat penyimpanan padi yang sudah di panen dari ladang / sawah ). Sekarang Lumbung Page ini telah di rombak dan di jadikan sebagai Taman Baca Anak di desa Lingga.
Rumah Gerga di desa Lingga.
Sumber :( eranatalia br sitepu ) Dokumentasi peneliti, 6 Juli 2011
Rumah Belang Ayo di Desa Lingga.
Sumber : ( eranatalia br sitepu ) Dokumentasi peneliti, 6 Juli 2011
Dari
hasil analisis saya, bahwa Rumah Adat yang ada di desa Lingga ini tidak
dirawat akibat tidak adanya dana dari pemerintah. Masyarakat juga
menuturkan bahwa mereka tidak sanggup mengganti kerusakan – kerusakan
Rumah Adat di desa ini karena mereka tidak mempunyai cukup biaya.
Harapan mereka terhadap Rumah Adat ini adalah agar Pemerintah lebih
peduli akan pelestarian akan Rumah Adat di Desa Lingga. Karena jika
Rumah Adat ini tidak dilestarikan maka keturunan kita tidak sempat lagi
melihat dan mengetahui bagaimana dulunya nenek moyang mereka membangun
rumah tanpa menggunakan paku.

**Bujur Rasa Mejuah - Juah Kita Kerina Kalak Karo**

